Indy Rahmawati : Saya tidak melakukan rekayasa

indyBeberapa pekan terakhir, produser, presenter, dan reporter TV One, Indy Rahmawati, tiba-tiba menghilang dari layar stasiun televisi berita milik Bakrie Group itu. Baik di program Apa Kabar Indonesia (AKI) Pagi yang dipandu Indy dan Andri Jarot, atau program mingguan yang dipandu oleh Indy sendiri, Satu Jam Lebih Dekat.

Ya, penyebabnya tak lain karena Mabes Polri mengadukan Indy dan TV One ke Dewan Pers atas dugaan merekayasa narasumber dalam program AKI Pagi, dengan menampilkan Andris Ronaldi, seseorang yang diyakini polisi sebagai makelar kasus (markus) palsu.

Pada 24 Maret lalu program yang diproduseri sekaligus dipandu Indy itu memang membahas fenomena markus sebagai topik utama. Untuk memperkuat tayangan tersebut, dihadirkan seorang pria yang diyakini berprofesi sebagai markus yang biasa beroperasi di lingkungan Mabes Polri. Untuk menutupi identitasnya, pria tersebut mengenakan topeng. Suaranya pun diubah sedemikian rupa.

Polisi menilai ada yang janggal dengan sejumlah keterangan atau pernyataan pria tersebut . Saat itu juga sejumlah polisi berpakaian preman kemudian dikirim ke Wisma Nusantara, namun acara keburu usai dan Andris sudah pergi. Sempat bertanya kepada kru AKI Pagi, tapi tak satu pun yang bersedia memberitahu identitas Andris. Pengintaian polisi di lokasi yang sama berlangsung hingga beberapa hari berikutnya. Sampai akhirnya Andris berhasil ditangkap polisi di sebuah tempat.

Dalam keterangannya kepada polisi, Andris mengaku “dipaksa” Indy untuk mengaku sebagai markus yang sudah beroperasi selama 12 tahun, dengan upah Rp 1,5 juta. Bahkan lengkap dengan skenario yang sudah disiapkan Indy.

Jika hal itu benar, tentunya kredibilitas TV One sebagai televisi yang menggembor-gemborkan slogan ‘terdepan mengabarkan’. Juga bagi Indy Rahmawati, ibu beranak satu yang sudah 11 tahun menjadi jurnalis televisi, mulai dari Liputan 6 SCTV, ANTV, dan kini di stasiun televisi bermaskot Bang One.

Pada Senin (19/4), Kadiv Humas Mabes Irjen Pol Edward Aritonang usai pemanggilan Indy sebagai saksi, mengatakan, Mabes Polri akan mengkonfrontir Indy dengan Andris.  “Sementara kita panggil sebagai saksi. Nanti mungkin kita akan konfrontir jika ada keterangan berbeda dengan markus palsu,” ujar Edward seraya menegaskan, bahwa pihaknya yakin Andris bukanlah markus asli.

Meski Dewan Pers telah menyatakan tidak ada rekayasa dalam tayangan tersebut, namun kasus akan tetap berjalan. Urusan dengan dewan pers, menurut Edward, adalah urusan dengan TV One, sementara Andris adalah urusan polisi. “Urusan polisi itu dengan Andris. Masa ini harus dibawa ke Dewan Pers. Kan dia bukan wartawan,” tegasnya.

Dalam kaitan ini, Edward meminta publik agar membedakan mana persoalan yang diproses di kepolisian dan mana perkara yang diproses ke Dewan Pers.

Bagaimana tanggapan Indy Rahmawati selaku produser dan presenter program AKI Pagi yang disebut-sebut Andris telah “memaksanya” mengaku sebagai markus. Berikut pemaparan perempuan kelahiran Bandung pada tanggal 1 April 1971 ini kepada Bintang dalam sebuah perbincangan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta beberapa hari lalu.

Bagaimana awal mulanya Anda bisa menghadirkan Andris di Apa Kabar Indonesia Pagi, siapa dia sebenarnya?
Dia adalah seorang informan salah satu redaksi stasiun televisi. Dia tahu seluk beluk soal itu (markus), dan dia tahu semuanya, karena memang bagian dari itu. Nah, suatu saat merebak berita soal markus, tepatnya Desember tahun lalu. Saya ngobrol dengan teman dari redaksi stasiun televisi lain yang bertugas di desk kriminal dan tanya-tanya apakah ada seseorang yang bisa dijadikan narasumber untuk kasus ini, kalau bisa dia adalah seorang pelaku. Teman saya bilang ada dan kriterianya sesuai dengan yang saya butuhkan. Bahkan teman saya bilang dia sudah beberapa kali memakainya sebagai narasumber. Beberapa stasiun televisi lain juga pernah menjadikan Si Andris narasumber untuk kasus serupa. Bedanya mereka semuanya mewawacarainya dengan cara taping (rekaman). Artinya, verifikasi yang saya lakukan sebelum menjadikan orang ini narasumber sudah cukup, karena kami  bukan yang pertama. Saya lalu minta  nomor kontaknya pada teman saya untuk terlebih dahulu menanyakan apakah bersedia dijadikan narasumber. Selain itu saya juga meyelidiki bagaimana aktivitasnya, dimana sehari-hari berada, bahkan saya juga temui beberapa “kliennya” antara lain pengacara yang pernah dia bantu menyelesaikan sebuah perkara, dan mereka semua membenarkan sepak terjang Si Andris. Artinya betul bahwa dia adalah seorang “markus”.

Soal honor Rp 1,5 juta maksudnya untuk apa, sekedar uang transport datang ke Wisma Nusantara atau memang benar sogokan?
Begini, setiap narasumber yang kami undang dan hadir ke studio atau lokasi syuting sebuah program pasti kami berikan uang pengganti transport, perlu diingat ini bukan honor. Besarnya hanya Rp 500 ribu. Siapa pun narasumbernya, dari level menteri sampai level pemulung semua sama. Sementara Si Andris ini saat kami wawancara untuk yang pertama pada bulan Desember tahun lalu, dia “nawar”, minta ditambah uang transportnya. Akhirnya kita kasih Rp 1 juta. Nah, untuk yang kemarin (24 Maret) saya tanya lagi, apakah dia masih bersedia menjadi narasumber. Dia bilang mau, lalu bertanya berapa transportnya. Saya bilang sama seperti bulan Desember. Tapi dia minta tambah lagi, setelah nego, akhirnya dia sepakat Rp 1,5 juta. Jadi itu bukan uang sogokan seperti yang dia akui kepada polisi supaya mau bicara dan mengikuti skenario yang saya buat.

Soal skenario itu memang benar?
Ya tidak lah. Yang ada hanya skrip rundown acara, misalnya segmen pertama berapa menit durasinya, kemudian break iklan, kemudian lanjut lagi segmen berikutnya. Seperti itu saja. Bukan skenario, dia harus bicara apa, apa saja kalimatnya, dan sebagainya, seperti sebuah sinetron. Logikanya, kalau semua kalimat yang dikatakannya berasal dari skenario dan dia sambil baca, dengan waktu yang terbatas, tayangan live, gaya bicaranya terlalu lancar. Lagipula talkshow yang hanya setengah jam, untuk apa harus membuat pertanyaan berikut jawabannya, saya juga tidak mau mempersulit diri sendiri.

Percakapan Anda dengan Andris melalui BlackBerry Messenger (BBM) dijadikan salah satu barang bukti oleh polisi, bahkan transkripnya sudah beredar di dunia maya. Apakah itu tidak akan memberatkan Anda?
Yang beredar itu adalah penggalan-penggalan yang dipilih. Sayangnya data BBM saya dengan dia di BlackBerry (BB) milik saya sudah dihapus semua, karena saya punya kebiasaan membersihkan semua pesan, email dan sebagainya yang ada di BB saya agar tidak membuat berat koneksi. Padahal ada pernyataan Si Andris di BBM yang kalau dibaca polisi akan memberatkan dia.

Yang jadi barang bukti itu hanya BB milik Andris?
Iya, BB saya masih saya pegang, tidak pernah diminta polisi apalagi disita.

Soal tekanan atasan yang ada dalam transkrip BBM maksudnya bagaimana?
Itu dalam rangka saya melindungi identitas narasumber, dalam hal ini nomor kontak dia. Saya diajari senior bahwa seorang jurnalis harus melindungi narasumber, kepada pimpinan sekali pun. Karena kalau terjadi apa-apa seperti sekarang ini, menjadi tanggung jawab individu masing-masing. Tapi nyatanya, tidak saya buka pun Si Andris membuka sendiri jati dirinya di depan banyak media.

Saat tiba-tiba polisi akhirnya memperkarakan hal ini apa yang Anda rasakan?
Pastinya kaget. Tapi saya dan teman-teman coba ikuti arahnya mau dibawa kemana, apakah ada sebuah konspirasi di balik ini semua atau bagaimana kami tidak tahu. Itu terjadi dan sudah saya duga sejak tayangan berlangsung.

Reaksi suami, anak, dan keluarga Anda lainnya bagaimana?
Suami mendukung saya dan bilang pada saya jangan takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya. Kalau anak saya belum mengerti apa-apa, bahkan sebelum ini terjadi pun tidak pernah nonton kalau saya sedang siaran, lebih suka nonton kartun. Sementara keluarga dan teman-teman mendukung saya untuk mengungkap fakta sejelas-jelasnya.


Omong-omong hasil mediasi antara TV One, Dewan Pers, dan Polisi bagaimana?
Masih dalam tahap negosiasi, masing-masing, baik dari kami TV One  maupun polisi sudah menyepakati untuk tidak menyelesaikannya melalui jalur hukum. Tapi masing-masing mengajukan syarat, dan kesepakatan itu yang belum tercapai. Yang pasti ada sebuah pernyataan dari Dewan Pers yang cukup melegakan, yakni bahwa mereka yakin TV One tidak melakukan sebuah rekayasa, tidak memberitakan sebuah keburukan, dan tidak melakukan kebohongan publik.

Apa pelajaran berharga untuk Anda dari kasus ini?
Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk semua jurnalis, bahwa dalam menjalankan profesi kita, harus selalu mengabarkan yang benar, bukan sebuah rekayasa. Dan saya merasa sudah melakukan itu. Satu hal lagi, meskipun sudah melakukan tugas sesuai standar jurnalistik dan kaidah-kaidah yang benar, sebagai jurnalis kita harus selalu siap dengan segala resiko dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, seperti yang saya alami saat ini.

Anda kapok melakukan wawancara atau menghadirkan narasumber penting yang harus dirahasiakan?
Tidak. Demi kebenaran sebuah informasi saya tidak pernah merasa kapok atau takut. Hanya saja, lain kali untuk hal-hal semacam ini dan untuk melindungi narasumbner rasanya tidak perlu lagi ditayangkan secara live, cukup taping, atau kalau pun live harus di tempat terpisah dan tersembunyi.

Sudah beberapa pekan ini Anda tidak on air status Anda di kantor bagaimana?
Tidak ada masalah. Justru pimpinan membebaskan saya dari program-program yang biasa saya pandu, agar saya bisa fokus menyelesaikan kasus ini. Tapi saya tetap bertanggung jawab dengan program yang saya produseri termasuk AKI Pagi. Jam kerja saya sekarang justru tambah panjang, karena banyak hal yang harus dikerjakan, misalnya menyiapkan berita acara, membuat kronologis, mediasi ke dewan pers, memenuhi panggilan polisi untuk menjadi saksi atas penangkapan Aris, pokoknya semua menyita waktu, pikiran, dan tenaga saya. Hal ini dikhawatirkan akan membuat tidak fokus kalau saya tetap memandu program. Nanti kalau semunay sudah selesai, barulah saya siaran lagi. Tapi selain tetap ngantor ke Pulogadung, setiap pagi saya juga hadir di Wisma Nusantara, karena sebagai produser saya harus bertanggung jawab dengan kelancaran program AKI Pagi.

(gur/gur)

Sumber : link www.tabloidbintang.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s