Efektif Berkomunikasi Dengan Mengenali Kepribadian Lawan Bicara

TIDAK memiliki latar ilmu psikologi, tetapi Erwin Parengkuan, penyiar, presenter, dan juga fasilitator yang cukup populer di dunia keartisan, merilis Click!, sebuah buku tentang kepribadian.

“Saya pilih sebagai judul karena setelah membaca buku ini, Anda diharapkan bisa lebih ‘klik’ atau nyambung dengan setiap orang yang Anda ajak bicara. Tujuan mendasar penulisan buku ini, meningkatkan kemampuan komunikasi berdasarkan kepribadian kita agar lebih efektif sekaligus membuka wawasan tentang pentingnya mempelajari kepribadian sebagai salah satu faktor utama bagi kesuksesan berkomunikasi,” papar Erwin.

Pengalaman Erwin di ketiga bidang komunikasi membuatnya menyadari, komunikasi tidak hanya bisa dilihat sebagai seni menyampaikan pesan saja. Komunikasi juga seni tentang kepribadian. Komunikasi keterampilan yang berhubungan dengan orang. “Ketika kita berbicara mengenai orang, maka itu erat kaitannya dengan personality atau kepribadian,” ungkap Erwin.

Namun, berdasarkan hasil pengamatannya dari buku-buku yang ada saat ini, buku tentang komunikasi masih dibuat dalam bentuk terpisah dengan ilmu tentang kepribadian. Padahal menurut Erwin, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.

“Contohnya ketika saya mengajar, materi komunikasi yang saya bawakan ternyata juga terkait erat dengan materi kepribadian. Sebab bila kita ingin berkomunikasi secara efektif dengan lawan bicara, mau tidak mau kita harus melibatkan sudut pandang kepribadian. Karena kepribadian memengaruhi pola pikir dan gaya komunikasi seseorang. Bagaimana komunikasi bisa efektif sangat tergantung pada kemampuan kita memahami kepribadian lawan bicara,” bebernya.

Di dalam bukunya, Erwin sekaligus memperkenalkan sebuah instrumen karyanya, EPCP (Erwin Parengkuan Communication and Personality), yang disusun sebagai alat bantu untuk menganalisis tipe kepribadian beserta cara mereka berkomunikasi. Empat tipe kepribadian yang menjadi bahan kajian adalah tipe si agresif, si perinci, si kuat, dan si damai. Bagaimana cara mereka berkomunikasi? Berikut sekelumit ciri-cirinya yang kami simpulkan dari isi buku.

Si agresif
Sebagai orang yang supel dan mengandalkan pendekatan terhadap orang lain untuk berkomunikasi, si agresif biasanya berbicara dengan bahasa yang spontan, hangat, dan apa adanya.
Cara menghadapi mereka: Lawan bicara harus memahami keinginan-keinginan mereka. Harus sama gesit dan sama pastinya dalam bersikap.

Erwin menyebutkan, orang-orang agresif akan menyatakan langsung keinginan mereka kepada lawan bicaranya. Misalnya, ketika membuat satu janji pertemuan, mereka akan tepat waktu, dan akan berani menagih Anda yang tidak sama tepat waktu. Berbicara dengan mereka, tidak perlu terlalu kaku atau dibuat-buat. Bicaralah apa adanya. Oh iya, salah satu hal menyenangkan dari orang-orang tipe agresif, mereka tidak pernah menyimpan dendam. Mereka cepat lupa dan tidak pernah mengungkit-ungkit cerita lama.

Si rinci
Mungkin sepintas kita mengenal mereka sebagai orang yang gemar bertele-tele. Orang-orang perinci adalah mereka yang mampu berbicara panjang-lebar tentang sesuatu hal.
Cara menghadapi mereka: Satu hal yang pasti, orang yang menjadi lawan bicara mereka harus berani memotong pembicaraan. Kalau tidak, si perinci akan terus memaparkan pikiran-pikirannya tanpa terputus.

Bahkan mungkin kalau dibiarkan terlalu lama akan jadi ngalor-ngidul. Pembicaraan akan menjadi sesuatu yang buang-buang waktu, karena apa yang dipaparkan bisa jadi melebihi dari apa yang Anda butuhkan. Misalnya, seorang pewawancara di televisi tengah menggali informasi dari narasumber yang rata-rata termasuk tipe si rinci. Menjawab satu pertanyaan saja, mereka bisa amat menuturkan dengan detail. Kalau pewawancara tidak tegas, durasi menjadi taruhan tuh! Dan pertanyaan berikutnya bisa-bisa tidak sempat diajukan.

Si kuat
Seperti orang-orang yang jarang berkata-kata, tetapi sekali mulutnya terbuka, para pendengarnya harus berhati-hati. Karena biasanya yang mereka ucapkan adalah hal-hal lugas dan to the point.

Cara menghadapi mereka: Sama sekali tidak disarankan untuk banyak berbasa-basi dengan orang-orang tipe ini. Mereka adalah orang yang bisa dikatakan paling mengetahui segala sesuatu hal, dan itu sangat jauh ke depan. Satu hal yang perlu menjadi catatan khusus, orang-orang tipe si kuat seperti tidak membutuhkan teman-teman di dalam kehidupannya. Misalnya saja di acara-acara keramaian, mereka akan nampak enjoy menikmati waktu sendirian. Bukannya sama sekali tidak boleh bagi Anda menghampiri mereka. Hanya saja, Anda patut memikirkan baik-baik tentang apa yang akan Anda lontarkan, kecuali siap menerima kata-kata lugas dari mereka yang seringkali membuat hati terluka. Hehehe.

Si damai
Kecenderungan orang-orang tipe si damai, mereka tidak mau menciptakan konflik dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya berbicara mereka agak pasif dan tidak dominan.
Cara menghadapi mereka: Mungkin istilah nrimo cocok disematkan kepada orang-orang tipe ini. Tetapi, sikap nrimo dari mereka tidak selamanya menyenangkan. Kadang malah merepotkan dan serba tidak pasti. Si damai akan selalu bilang “terserah” kepada lawan bicaranya. Jadi, siapa yang hendak berhubungan dengan mereka harus memiliki kontrol dan ketegasan.

Misalnya saja ketika membuat janji dengan mereka, lawan bicara harus berani menyatakan tempat dan waktu bertemu secara pasti. Karena karakternya yang pembawa kedamaian, mereka hampir selalu disukai dan banyak temannya. Mereka mudah didekati karena selalu menerima dengan senyuman tulus siapapun yang menghampiri.

Satu hal, jangan berbicara dengan nada yang keras atau berpotensi membuat luka. Walau damai, mereka cenderung menyimpan luka di dalam hati. Sekalinya terluka, mungkin dia tidak akan damai lagi dengan Anda, lho! Sebagai catatan khusus, Erwin berharap si damai tidak sering-sering atau terlalu banyak berinteraksi dengan si kuat. Karena bisa mengakibatkan depresi. Wah!

Dengan mengetahui cara tiap-tiap kepribadian tersebut berkomunikasi, maka Anda akan tahu bagaimana caranya menghadapi mereka di dalam keseharian, lingkungan sosial, atau pekerjaan.

Lebih detailnya, Erwin memaparkan semuanya di dalam buku yang terdiri dari 6 bab. Mulai dari sudut pandang kepribadian dalam komunikasi, mengenali tipe-tipe kepribadian, hubungan kepribadian dan gaya komunikasi, cara mengoptimalkan kepribadian, cara memprediksi lawan bicara, hingga bahasan tentang cara meningkatkan kemampuan komunikasi efektif dengan berbagai tipe kepribadian.

Sebagai bocoran, di dalam acara peluncuran bukunya Kamis pekan lalu (21/10), Erwin memberi tahu cara praktis mengenali kepribadian seseorang hanya dari melihat cara mereka berpakaian.

“Si agresif selalu berpakaian trendi (sekalipun itu tidak cocok benar dikenakannya). Si rinci senantiasa berpenampilan rapi hingga bahkan tidak ada secuil kusut pun di pakaiannya. Si kuat selalu penuh percaya diri dengan gaya pribadinya yang tidak melulu terkini, asalkan sesuai fungsi dan mencerminkan karakter. Sedangkan si damai cenderung berpakaian apa adanya yang mengesankan kesederhanaan,” bilang Erwin. Coba perhatikan ciri-ciri itu di lingkungan tempat Anda berada. Dan mulai pikirkan bagaimana harus berbicara dengan mereka agar tujuan Anda berhasil mulus.

Sumber : http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/psikologi/6576-efektif-berkomunikasi-dengan-mengenali-kepribadian-lawan-bicara-.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s