Jadikan “Arsyad Pradana Wijaya” Pengalaman untuk Memperbaiki Diri

Kaka Arsya setelah melahirkan, sangat ganteng

Kaka Arsya setelah melahirkan, sangat ganteng

“Sebelum mulai saya ingatkan bahwa saya bukan orang yang pandai menulis. Maaf jika tulisannya berantakan.”

Saya akan bercerita mengenai anak pertama saya. Pengalaman rasa senangnya memiliki anak dan sakitnya kehilang anak pertama, mudah-mudahan bisa dijadikan pengalaman, sehingga tidak terjadi pada calon anak kalian semua.

Ok seep kita langsung mulai saja.

Kami menikah di awal april, tepatnya tanggal 4 april 2014. 2 minggu setelah pernikahan  alhamdulillah isteri positif, perasaan saya saat itu masih bingung, berfikir sudah siapkah saya menjadi bapak yang baik, menafkahi anak dan istri secara lahir dan batin.

Sama seperti bapak-bapak yang lain saya ingin yang terbaik buat anak dan isteri, mulai dari menjaga isteri saya tidak cape dengan menyuruh berhenti bekerja, melarang minum susu ibu hamil hingga melarang berkata kasar.

Himbauan larangan kerja ke isteri saya dibalas dengan jawaban “kalau engga kerja di rumah juga ngapain? diem aja bete, kan lumayan tambah-tambahan buat biaya lahiran” saya pikir-pikir iya juga, ya sudah akhirnya saya memperbolehkan isteri untuk bekerja. Lalu kenapa saya melarang isteri untuk meminum susu hamil? saat itu saya cari info di internet hingga bertanya langsung pada bidan, kebetulan bidan itu kaka dari teman saya.

Karena ini anak pertama, atas anjuran teman dan didukung beberapa artikel yang saya baca di internet akhirnya saya putuskan agar isteri saya tidak konsumsi susu hamil karena susu hamil itu hanya baik untuk siibu hamil tetapi tidak untuk siotak bayi dan bisa membuat bobot badan sibayi cepat besar, sehingga peluang untuk lahiran normal lebih besar.

Pada masa kehamilan isteri saya bekerja menggunakan motor setiap hari, tidak hanya itu kami sering pulan dan pergi Tangerang-bogor dan bogor-tangerang setiap 2 minggu sekali.

Setiap sebulan sekali kami rutin ke dokter kandungan ataupun bidan untuk cek kehamilan. Tapi karena isteri saya pendengar yang baik, dia selalu menerima saran-saran dari teman-temannya, sehingga setiap bulan sering sekali ganti-ganti dokter ataupun bidan itu membuat team dokter tidak bisa melihat perkembangan bayi dari awal. Dari hasil cek dokter, bulan pertama hingga ke 5 kondisi bayi kami sehat, plasentanya bagus.

Langsung saja, pada usia kandungan 7 bulan 2 minggu isteri saya mulai merasakan pegal-pegal dan panas di bokong. Saya kira itu hanya kontraksi biasa saja, karena saya tanya temanpun memang itu hal biasa. setelah keesokan harinya kondisi pegalnya tidak kunjung hilang, dan akhirnya tetangga saya rekomendasikan untuk cek ke bidan. Setalah di bidan hasilnya sangat mengejutkan, ternyata isteri saya sudah pembukaan 7. saya diberitahu saat itu sangat kaget, karena saat itu isteri saya hanya bilang pegal-pegal, itu saja. ya sudah lanjut ke isteri saya, bidan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit, karena kondisi bayinya tidak biasa, bidan menyarankan agar dibawa ke RSU Tangerang, tetapi menurut kami lokasi rumah sakit itu sangat jauh, dan kami meminta untuk dibawa ke RS Siloam karena lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal. Di RS Siloam rumah sakit tidak bisa menerima dan beralasan tidak ada Nicu (semacam mesin untuk bayi berkebutuhan khusus). Akhirnya kami tetap di rujuk ke RSU Tangerang.

Setalah di RSU Tangerang, team dokter menerangkan kondisi kehamilan isteri dan anak saya, kira-kira seperti ini penjelasannya “Istri bapak kondisinya tidak baik, selaputnya ada yang sobek sehingga cairan ketuban merembes, jika kami tidak mengeluarkan si bayi maka kondisinya akan berbahaya untuk bayi, tapi kalaupun bayinya kami paksa keluarkan kondisi sibayi masih belum siap, karena organ-organnya belum sempurna, cara paling baik harus di Nicu untuk jaga kesetabilannya, tapi saat ini nicu di kami penuh. Nicu itu peluang satu-satunya, peluang keselamatan jika menggunakan nicu saja hanya 60% bayangkan jika tidak pakai nicu kami tidak bisa memperkirakan”. Saat itu saya dihadapkan di oleh 2 kondisi yang membingungkan, karena di daerah tangerang tidak banyak rumah sakit memiliki fasilitas nicu. ya sudah akhirnya saya putuskan untuk mengeluarkan si bayi, karena itu option yang cukup baik dari option lain.

Pada Rabu 19/11/2014 anak saya lahir dan terlihat gagah walaupun dengan berat hanya 1.9 kg dan panjang 40 cm. Saya kira kondisi fisik anak saya baik-baik saja tidak ada yang aneh seperti yang dokter takutkan.

Setelah lahir dan di azankan, si bayi langsung ditempatkan di incubator. Hari pertama tidak melihatkan kelainan, kondisinya baik tidak rewel. hari ke 2 pas sore hari saya diberitahu dokter untuk memasang kabel infus, karena sibayi tidak mau meminum susu. hari ke berat badan sibayi naik jadi 2.3 kg, saya mulai lega dengar berita baik. tapi kata dokter belum ada perkembangan baik. hari ke 4 anak saya dipuasakan karena perutnya kembung kulitnya kuning dan harus disinar untuk hilangkan kuningnya, hari ke 5 kondisinya memburuk berat badan melorot jadi 1.7. hari ke 6 perutnya kembung. hari ke 7 kulitnya menguning dan mengalami kesulitan nafas. Dokter harus mengambil tindakan harus transfusi darah. saat itu saya mulai kasihan melihat anak kesayangan saya harus berjuang sekeras itu agar bisa melewati masa kritisnya. Tepat di hari ke 8 kamis 27/11/2014 pukul 05.00 anak saya berhenti bernafas dan meninggal. Saat itulah saya merasakan sakitnya kehilangan, rasa sesal, ingin marah, kecewa semua campur aduk.

Pada kondisi itu semua yang ada dipikiran saya itu semua penyesalan, penyesalan atas tidakan bodoh saya yang membiarkan isteri saya tetap bekerja, bepergian jauh menggunakan motor, tidak mengontrol obatnya diminum atau tidak, konsumsi makanan sehatnya. itu yang membuat saya meratapi semua penyesalan… “kenapa hal seperti ini harus terjadi”.

Dan pada kondisi lain saya berpikir, apakah ini karen penangan perawatan bayi yang tidak maksimal. memilih tindakan yang tidak tepat. Selalu berpikir siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan itu hanya membuat semakin besar rasa kecewa saya.

Ada beberapa pengalaman yang bisa diambil dari pengalaman ini, Jaga kondisi si calon anak dengan cara menjaga siibu yang mengandung, selalu cek kesehatan kandungan dan si ibu pada dokter yang sama sampai hari melahirkan, karena akan mempermudah melihat kondisi perkembangan si bayi, makan-makanan yang sehat, diusahakan tidak sering bepergian jauh apalagi menggunakan motor, tolong dalam kondisi hamil jangan bawa isteri menggunakan motor jika tidak ingin beresiko seperti anak saya.

Ini cerita mengenai anak pertama saya yang membuat saya dapat merasakan rasa sangat bahagiannya memiliki buah hati, dan rasa sakitnya kehilangan buah hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s